BUKU KURIKULUM 2013 Selesai Februari, Gratis !!

Kabar24.com, JAKARTA – Dalam waktu dekat, para siswa di Indonesia akan mulai belajar dengan buku paket baru berdasarkan kurikulum 2013.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Pendidikan Musliar Kasim memperkirakan buku pelajaran untuk kurikulum 2013 akan selesai pada Februari.

Hal itu disampaikan Musliar dalam acara sarasehan dengan pers di Universitas Terbuka, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Rabu (15/1).

Buku yang disiapkan bentuknya digital atau ebook. Sementara pengadaan pencetakan buku tersebut akan dilakukan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, LKPP, daerah dengan menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah, BOS, dan Dana Aliran Khusus, DAK.

Kemdikbud sudah menganggarkan dana sebesar Rp11 triliun yang digunakan untuk pencetakan buku.
"Jadi, pengadaan buku tidak ada di Kemdikbud," jelas Musliar.

Buku-buku tersebut nantinya akan diberikan gratis kepada seluruh murid sekolah.
"Tidak ada pungutan untuk buku, karena semuanya diberikan gratis," tukas Musliar Kasim.
Kurikulum 2013 akan diterapkan secara keseluruhan mulai SD, SMP, dan SMA pada tahun ajaran 2014/2015.

Para guru juga akan mendapat pelatihan mengenai kurikulum tersebut mulai Februari. (Antara)

Perbaikan Data PADAMU NEGERI 2014

Titipan dari teman di bangku sebelah!

BUAT CALON PESERTA SERTIFIKASI 2014, PERBAIKI DATA DI PADAMU NEGERI

CARA MERUBAH MASA KERJA/TMT = BUKA PADAMU -> LOGIN PTK -> MASUKKAN NUPTK & PASWORD -> KLIK RIWAYAT & PRESTASI -> KLIK FUNGSI & JABATAN -> kLIK TANDA PANAH BAWAH 'v' -> edit. 


CARA MERUBAH IJAZAH TERAKHIR = BUKA PADAMU -> LOGIN PTK -> MASUKKAN NUPTK & PASWORD -> KLIK RIWAYAT & PRESTASI -> KLIK RIWAYAT PENDIDIKAN -> klik tanda '+' KLIK JADIKAN PERMANEN -> CETAK S12a -> SETORKAN KE OPERATOR DINAS KAB/KOTA -> MINTA S13 (BUKTI PERUBAHAN RINCI) 

SYARAT UTAMA UTK DAPAT MENGIKUTI SERTFIKASI 2014, IJAZAH S1, SK AWAL MENJADI GURU (pns/honor) sebelum 30 DESENBER 2005, STATUS PNS/CPNS/GTY/HONDA SK BUPATI/GUBERNUR.  Kategori UKG 2013 adalah calon peserta yang sudah mengikuti UKG tahun 2013. 

Kategori ini tidak perlu mengikuti UKG tahun 2014 kecuali bagi yang merubah bidang studi sertifikasi, tidak lagi sesuai dengan bidang studi sertifikasi pada saat UKG tahun 2013.
Kategori UKG 2014 adalah calon peserta yang belum mengikuti UKG 2013. Kategori ini akan mengikuti UKG 2014.

Tahap Pelaksanaan Sertifikasi Guru tahun 2014
Berikut tahap pelaksanaan verifikasi calon peserta sertifikasi guru tahun 2014 :
1. Tahap verifikasi Data - jadwal sd 31 Januari 2014.
2. Persiapan dan pelaksanaan UKG 2014 - pertengahan Februari 2014.
3. Evaluasi peserta tidak lulus PLPG 2013
4. Tahap penetapan Peserta sertifikasi guru tahun 2014

cek peserta di http://sergur.kemdiknas.go.id/sg13/
Informasi Sertifikasi Guru
sergur.kemdiknas.go.id

Dapodik Dikdas 2.0.5 update dirilis

Setelah beberapa kali versi aplikasi dapodik rilis, kini versi 2.0.5 juga telah rilis dengan beberapa perbaikan-perbaikan didalamnya seperti Peserta Didik dan PTK baru kini dapat dipindahkan ke tabel utama secara manual tanpa harus melalui proses sinkronisasi terlebih dahulu, tidak diharuskannya data invalid = 0, dan sebagainya. Seiring dengan dirilisnya aplikasi dapodik versi 2.0.5 ini, kini sinkronisasi telah disediakan jadwal perdaerah sehingga diharapkan dapat memperlancar dan mempermudah proses sinkronisasi bagi para Operator Sekolah di seluruh Indonesia.

Jadwal Sinkronisai Dapodik:

Senin : Kepulauan Sumatera
Selasa-Rabu : Kepulauan Jawa
Kamis : Kepulauan Kalimantan
Jum'at : Kepulauan Sulawesi
Sabtu : Kepulauan Papua
Minggu : Bebas untuk semua wilayah

Bagi operator sekolah yang sebelumnya sudah menggunakan aplikasi dapodik versi 2.0.4, cukup upgrade aplikasi menggunakan patch versi 2.0.5 yang bisa di download DISINI atau jika terjadi kendala (misal: server down) bisa menggunakan patch dapodik versi 2.0.5 yang telah kami upload DISINI dan cara penggunaannya sudah kami bahas sebelumnya DISINI.

CATATAN : Bagi seluruh operator sekolah wajib mengupgrade aplikasinya ke versi 2.0.5 dan selanjutnya wajib sinkronisasi kembali menggunakan versi 2.0.5 ini meskipun sudah melakukan sinkronisi dengan versi sebelumnya.

Terkena Bola Tendangan Pemain Arsenal, Pemain Aston Villa Hilang Ingatan

TRIBUNNEWS.COM – Sebuah tendangan keras dari gelandang Arsenal, Serge Gnabry membuat pemain Aston Villa, Nathan Baker, kehilangan ingatan. Sang pemain tidak dapat mengingat apa apa tentang babak pertama.

Di menit ke 14, tendangan Gnabry menghantam wajah Baker dengan keras. Pemain The Villans tersebut langsung terkapar di lapangan dan mendapatkan perawatan selama lebih dari lima menit. Akhirnya ia harus digotong keluar oleh petugas medis dengan menggunakan bantuan oksigen dan digantikan Leandro Bacuna.

"Baker merasa kebingungan. Ia merasakan pukulan di bagian kepalanya. Itu sangat berbahaya dan membuat kami sedikit khawatir," ujar Manajer Aston Villa, Paul Lambert. Ia menambahkan, beruntung kondisi sang pemain masih fit, karena terjadi di awal pertandingan.

BLH Targetkan 10 Sekolah Adiwiyata di Kotawarngin Barat

Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat sudah tujuh kali mendapatkan piala Adipura secara berturut-turut. Tahun ini, Pemkab menargetkan 10 sekolah Adiwiyata. Dengan banyaknya sekolah berwawasan lingkungan diharapkan bisa memuluskan upaya pemkab meraih adipura kencana. Kepala BLH Kobar Fahrizal Fitri mengatakan, tahun lalu baru ada satu sekolah yang bakal dibina menjadi sekolah Adiwiyata.

“Kami bekerjasama dengan Disdikpora Kobar untuk membidik sekolah Adiwiyata ini. Kami bakal meminta petunjuknya untuk sekolah-sekolah yang kiranya bisa masuk klasifikasi,” bebernya.
Ada beberapa kriteria yang menjadi petunjuk untuk masuk kategori sekolah Adiwiyata, diantaranya kebijakan sekolah, kurikulum berbasis lingkungan, sarana prasarana pendukung sekolah, serta partisipasi warga sekolah.

Kebijakan sekolah dapat diimplementasikan dalam visi misi sekolah dan berbudaya lingkungan maupun kebijakan sekolah untuk pengalokasian dan penggunaan dana bagi kesehatan yang terkait dengan masalah lingkungan hidup.

Sedangkan kurikulum berbasis lingkungan diwujudkan dalam penyampian materi lingkungan  hidup kepada para siswa. Hal ini dapat dilakukan melalui kurikulum secara terintegrasi untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang lingkungan hidup yang dikaitkan dengan persoalan lingkungan sehari-hari.

Untuk mewujudkan sekolah berbudaya lingkungan sekolah perlu melibatkan dalam berbagai aktivitas pembelajaran lingkungan hidup. Selain itu sekolah juga diharapkan melibatkan masyarakat sekitarnya melakukan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat baik bagi warga sekolah, masyarakat maupun lingkunganya.

Dalam mewujudkan sekolah yang perduli dan berbudaya lingkungan perlu didukung sarana dan prasarana yang mencerminkan upaya pengelolan lingkungan hidup antara lain pengembangan fungsi sarana sekolah, penghematan sumber daya alam (listrik, air, ATK), pengembangan sistem pengelolaan sampah dan lain-lain.

Selain membentuk sekolah Adiwiyata, BLH juga akan membina perumahan di tingkat RT agar bisa mengelola sampah dan menjaga kebersihan lingkungan. “Sebenarnya ujung tombak masalah kebersihan adalah tingkat perumahan RT. Kalau bisa diatasi, semuanya bisa berjalan sendirinya . Tapi untuk bisa mengatasinya ini tentu tidak semudah membalikan telapak tangan, yang namanya sampah itu tidak ada habisnya. Ada yang perduli dan ada juga yang abai dengan sampah yang berserakan,” tegasnya.

Peran pasukan kuning yang setiap hari membersihkan Kota Pangkalan Bun juga menjadi salah satu penentu. “Kami optimis tahun 2014 bisa mendapatkan piala adipura kencana. Apabila bisa kita dapatkan kita harus terus kerja keras lagi untuk bisa mempertahankannya dan membuat masyarakat untuk selalu berbudaya bersih lingkungan,” pungkasnya.

(sumber radar sampit, 8 januari 2014)

Tunda Kurikulum 2013

BANDUNG, KOMPAS - Pemerintah diminta menunda pemberlakuan Kurikulum 2013 karena belum disosialisasikan secara luas serta berbagai kesalahan substantif yang harus segera diperbaiki. Penundaan itu merupakan langkah realistis demi kebaikan pendidikan generasi penerus bangsa.

Rekomendasi itu disampikan Majelis Guru Besar (MGB) Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam diskusi terbuka yang digelar Rabu (13/3). Diskusi dihadiri, antara lain, Ketua MGB ITB Harijono Tjokronegoro, guru besar emeritus Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta Henry Alex Rudolf Tilaar, Guru Besar Ilmu Matematika ITB Iwan Pranoto, serta Guru Besar ITB Imam Buchori Zainuddin.

Diskusi itu menghasilkan rekomendasi yang menyetujui perlunya mengganti kurikulum, tetapi harus dilakukan dengan perancangan yang cermat dan dituntun oleh kaidah ilmiah.

Masukan yang mereka berikan untuk Kurikulum 2013 seperti perlunya menggunakan tata bahasa yang baik, bisa mengungkapkan gagasan dengan lugas dan sederhana, menunjukkan keterkaitan dasar filosofis dengan pelaksanaan pada tataran teknis, serta mencantumkan sikap dan nilai luhur kemanusiaan demi menghadapi tantangan masa depan. Menurut Harijono, usulan ini akan diajukan dalam rapat pleno majelis guru besar ITB.

Dinilai terburu-buru

Anggota Komisi X DPR, Rohmani, yang hadir dalam diskusi, mengatakan, pemberlakuan Kurikulum 2013 oleh pemerintah terbilang terburu-buru dan dipaksakan. Komisi X baru mendapat kabar mengenai Kurikulum 2013 menjelang akhir 2012, tapi baru mendapatkan dokumennya awal Maret 2013. Alokasi anggaran yang diajukan pun melonjak dari Rp 684 miliar menjadi Rp 2,4 triliun.

Rohmani khawatir, skema persetujuan di akhir masa pembahasan ini bisa mengulangi kasus korupsi di Hambalang. ”Fraksi Keadilan Sejahtera tengah mengupayakan agar partai bisa mengambil sikap untuk meminta penundaan pelaksanaan Kurikulum 2013,” ujar Rohmani.

Guru Besar ITB Bambang Hidayat menyebut pemerintah tidak pernah menyosialisasikan Kurikulum 2013 sebelumnya. Karena itu, dikhawatirkan pergantian kurikulum ini hanya proyek.

Tidak terkait

Imam Buchori menilai, redaksional Kurikulum 2013 menggunakan bahasa yang indah dan ideal, tapi tidak memiliki keterkaitan satu sama lain.

Tilaar memberi contoh Finlandia yang sukses dalam melakukan revolusi sistem pendidikan, yang dipersiapkan 40 tahun sebelumnya. Finlandia mengubah sistem pendidikan dengan memulainya dari lembaga pelatihan guru agar guru bisa mendidik murid dengan baik.

Iwan Pranoto menilai begitu banyak kata patuh pada Kurikulum 2013. Ini tidak dijumpai bila dibandingkan dengan kurikulum negara lain, seperti Qatar dan Australia. Padahal, kurikulum adalah dokumen mengenai proyeksi manusia sebuah negara pada masa mendatang. (eld)

Progam Pendidikan S2 ke Luar Negeri dari Kementerian KOMINFO 2014

Kementerian Komunikasi dan Informatika pada Tahun 2014 kembali membuka kesempatan dan menyediakan beasiswa pendidikan S2 di luar negeri bagi PNS di lembaga kementerian dan non-kementerian termasuk PNS TNI/ POLRI, baik di lingkungan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah serta karyawan/ karyawati swasta yang bekerja di bidang TIK.
Persyaratan :

Lulusan sarjana (S1)
Memiliki IPK minimal 2.90 (dari skala 4)
Memiliki nilai Institutional TOEFL (ITP)  minimal 570 atau IELTS minimal 6.5
Memiliki nilai Tes Potensi Akademik (TPA) minimal 550
Mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang

Diutamakan :
a. Memiliki pengalaman kerja minimal 2 tahun;b. Berusia maksimal 35 tahun;
c.Belum memiliki gelar dan tidak sedang menerima beasiswa lain dan/atau sedang mengikuti program pendidikan S2;
d. Memiliki Unconditional Offer dari Universitas sesuai dengan daftar bidang studi yang ditetapkan.

Pendaftaran akan dibuka pada tanggal 2 Januari 2014 di situs :
http://balitbang.kominfo.go.id/balitbang/beasiswa
dan penyerahan berkas lamaran beasiswa paling lambat tanggal 15 Februari 2014 (cap pos).
Pelamar Program Beasiswa didorong untuk melamar bidang studi di universitas negara tujuan studi sesuai daftar yang ditetapkan oleh Balitbang Kominfo.

Daftar bidang studi, universitas dan negara tujuan studi dapat dilihat di : http://balitbang.kominfo.go.id/balitbang/beasiswa/pendaftaran/piliha-universitas-dan-jurusan/.
Informasi lebih lanjut mengenai Program Beasiswa ini dan formulir pendaftaran dapat di download di website: www.balitbang.kominfo.go.id/beasiswa
http://www.dikti.go.id/?p=12846&lang=id

Mewujudkan Pendidikan Karakter yang Berkualitas (oleh : om Timothy Wibowo)

Dalam tataran teori, pendidikan karakter sangat menjanjikan bagi menjawab persoalan pendidikan di Indonesia. Namun dalam tataran praktik, seringkali terjadi bias dalam penerapannya. Tetapi sebagai sebuah upaya, pendidikan karakter haruslah sebuah program yang terukur pencapaiannya. Bicara mengenai pengukuran artinya harus ada alat ukurnya, kalo alat ukur pendidikan matematika jelas, kasih soal ujian jika nilainya diatas strandard kelulusan artinya dia bisa. Nah, bagaimana dengan pendidikan karakter?

Jika diberi soal mengenai pendidikan karakter maka soal tersebut tidak benar-benar mengukur keadaan sebenarnya. Misalnya, jika anda bertemu orang yang tersesat ditengah jalan dan tidak memiliki uang untuk melanjutkan perjalananya apa yang anda lakukan? Untuk hasil nilai ujian yang baik maka jawabannya adalah menolong orang tersebut, entah memberikan uang ataupun mengantarnya ke tujuannya. Pertanyaan saya, apabila hal ini benar-benar terjadi apakah akan terjadi seperti teorinya? Seperti jawaban ujian? Lalu apa alat ukur pendidikan karakter? Observasi atau pengamatan yang disertai dengan indikator perilaku yang dikehendaki. Misalnya, mengamati seorang siswa di kelas selama pelajaran tertentu, tentunya siswa tersebut tidak tahu saat dia sedang di observasi. Nah, kita dapat menentukan indikator jika dia memiliki perilaku yang baik saat guru menjelaskan, anggaplah mendengarkan dengan seksama, tidak ribut dan adanya catatan yang lengkap. Mudah bukan? Dan ini harus dibandingkan dengan beberapa situasi, bukan hanya didalam kelas saja. Ada banyak cara untuk mengukur hal ini, gunakan kreativitas anda serta kerendahan hati untuk belajar lebih maksimal agar pengukuran ini lebih sempurna.


Membentuk siswa yang berkarakter bukan suatu upaya mudah dan cepat. Hal tersebut memerlukan upaya terus menerus dan refleksi mendalam untuk membuat rentetan Moral Choice (keputusan moral) yang harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata, sehingga menjadi hal yang praktis dan reflektif. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat semua itu menjadi custom (kebiasaan) dan membentuk watak atau tabiat seseorang. Menurut Helen Keller (manusia buta-tuli pertama yang lulus cum laude dari Radcliffe College di tahun 1904) “Character cannot be develop in ease and quite. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved”.

Selain itu pencanangan pendidikan karakter tentunya dimaksudkan untuk menjadi salah satu jawaban terhadap beragam persoalan bangsa yang saat ini banyak dilihat, didengar dan dirasakan, yang mana banyak persoalan muncul yang di indentifikasi bersumber dari gagalnya pendidikan dalam menyuntikkan nilai-nilai moral terhadap peserta didiknya. Hal ini tentunya sangat tepat, karena tujuan pendidikan bukan hanya melahirkan insan yang cerdas, namun juga menciptakan insan yang berkarakter kuat. Seperti yang dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni “intelligence plus character that is the goal of true education” (kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk merealisasikan pendidikan karakter di sekolah. Konsep karakter tidak cukup dijadikan sebagai suatu poin dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran di sekolah, namun harus lebih dari itu, dijalankan dan dipraktekan. Mulailah dengan belajar taat dengan peraturan sekolah, dan tegakkan itu secara disiplin. Sekolah harus menjadikan pendidikan karakter sebagai sebuah tatanan nilai yang berkembang dengan baik di sekolah yang diwujudkan dalam contoh dan seruan nyata yang dipertontonkan oleh tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah dalam keseharian kegiatan di sekolah.


Di sisi lain, pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pemangku kepentingan dalam pendidikan, baik pihak keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah dan juga masyarakat luas. Oleh karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun kembali kemitraan dan jejaring pendidikan yang kelihatannya mulai terputus diantara ketiga stakeholders terdekat dalam lingkungan sekolah yaitu guru, keluarga dan masyarakat. Pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antara stakeholder lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan yang kemudian didukung oleh lingkungan dan kondisi pembelajaran di sekolah yang memperkuat siklus pembentukan tersebut. 

Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter. Menurut Qurais Shihab (1996; 321), situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan disini, maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama.

Ingin mewujudkan pendidikan karakter yang berkualitas? Maka kuncinya sudah dipaparkan diatas, ada alat ukur yang benar sehingga ada evaluasi dan tahu apa yang harus diperbaiki, adanya tiga komponen penting (guru, keluarga dan masyarakat) dalam upaya merelaisasikan pendidikan karakter berlangsung secara nyata bukan hanya wacana saja tanpa aksi. Ingat, Pendidikan karakter melalui sekolah, tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata, tetapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur. Dan yang terpenting adalah praktekan setelah informasi tersebut di berikan dan lakukan dengan disiplin oleh setiap elemen sekolah.